Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label sastra

Halte Sore Itu

Sore, di halte ujung jalan sana Tak disangka kita kembali bersua Tak yakin kau melihatku Tak yakin pula kau masih mengenalku Niat hati menghampiri malah kuurungkan Bersyukur hari itu hujan Dengan jarak sepuluh meter kita terpisah Diriku leluasa melihatmu Hari lain, masih halte yang sama Kau diseberang bersama entitas lain Ingin nian hati menyapa Ujungnya urung kulakukan Pertemuan kedua terasa menyenangkan Tak pernah terlintas dalam angan untuk berjumpa lagi Sore berikutnya, di halte itu pula Tak kusangka malah jadi perjumpaan ketiga dengan tangan saling melambai

Resensi : Honey Si Peri Permen

Halo haloo! Balik lagi sama saya, hehe. Berbeda dengan sebelumnya yang berupa gambar dan puisi, kali ini tim Literasi 68 meminta resensi buku. Dan saya membawa resensi buku fiksi, yeay!! —Gak sih, biasa saja. Oke. Jadi buku ini berjudul ' Honey Si Peri Permen ' edisinya Rainbow Magic : Para Peri Pesta. Ditulis oleh Daisy Meadows dan diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Bukunya tipis kok, cuma 75 halaman. Bercerita tentang dua orang anak perempuan yang bernama Rachel dan Kirsty. Mereka pergi ke toko permen milik Nyonya Twist untuk pergi membeli kembang gula nenek. Tapi saat mereka tiba di sana, mereka melihat Nyonya Twist bersedih. Ternyata, hampir semua permen yang akan dijual hari itu melumer! Oh, tidak! Padahal toko akan dibuka sebentar lagi. Mereka mencari tahu apa yang terjadi dengan permen-permen Nyonya Twist. Lalu, saat melihat jejak kaki kecil di atas permukaan permen cokelat yang melumer— itu pasti ulah goblin ! Di detik berikutnya m...

Jika Kita Adalah Musim

Jika kita adalah musim, Aku mungkin musim dingin, Orang tuaku mungkin musim panas Jika kalian adalah musim, Ibu mungkin musim semi, Dan ayah mungkin musim gugur Satu panah dilecut untuk satu cacatku Membara seperti terik matahari di musim panas Dan aku mungkin tak pernah peduli, Sama seperti salju yang turun di musim dingin Nyatanya, ibu adalah musim semi Satu ujud keindahan dan kelembutan Dewi berselendang kehangatan Dan ayah tetaplah musim gugur Sang raja bermahkotakan daun gugur, Berjubah dingin yang menusuk tulang Namun, kehangatan itu riil dalam nadinya Kita memang seperti magnet, Kadang tarik-menarik, tapi sering bertolak Tak pernah ada juga musim dalam satu waktu yang sama, Faktanya, kita ada dalam satu bingkai yang sama Terbingkai satu kehangatan yang mutlak adanya Terhubung satu benang merah yang sama —Evelyn Natasha