Langsung ke konten utama

Jika Kita Adalah Musim

Jika kita adalah musim,
Aku mungkin musim dingin,
Orang tuaku mungkin musim panas

Jika kalian adalah musim,
Ibu mungkin musim semi,
Dan ayah mungkin musim gugur

Satu panah dilecut untuk satu cacatku
Membara seperti terik matahari di musim panas
Dan aku mungkin tak pernah peduli,
Sama seperti salju yang turun di musim dingin

Nyatanya, ibu adalah musim semi
Satu ujud keindahan dan kelembutan
Dewi berselendang kehangatan

Dan ayah tetaplah musim gugur
Sang raja bermahkotakan daun gugur,
Berjubah dingin yang menusuk tulang
Namun, kehangatan itu riil dalam nadinya

Kita memang seperti magnet,
Kadang tarik-menarik, tapi sering bertolak
Tak pernah ada juga musim dalam satu waktu yang sama,

Faktanya, kita ada dalam satu bingkai yang sama
Terbingkai satu kehangatan yang mutlak adanya
Terhubung satu benang merah yang sama





—Evelyn Natasha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Batik Nasional!

Hello fellas, I'm back! Kali ini kita akan bahas tentang Hari Batik Nasional! Yap! Tepatnya hari ini, 2 Oktober, adalah Hari Batik Nasional. Tapi, ngomongin soal batik nih, kira-kira masih ada yang belum tau apa itu batik? Wah, bisa gawat kalau kalian gak tau. Batik adalah kain bermotif khas Indonesia, loh. Cara pembuatan batik juga berbeda-beda; ada yang dibuat pakai canting dan malam, ada yang pakai cap dan malam, dan ada juga yang yang langsung dicetak pakai mesin. Semakin rumit proses pembuatan dan motifnya, maka harga batiknya akan semakin mahal! Nah, ternyata batik ini sudah ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Benda Lisan dan Nonbendawi oleh UNESCO pada tanggal 2 Oktober 2009. Makanya sejak hari itu, setiap tanggal 2 Oktober di Indonesia ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional! Batik juga banyak jenisnya; Batik Sumatra Batik Jawa Timur Batik Bali Masih banyak lagi contohnya selain diatas. Untuk lebih lengkapnya silahkan cek  wikipedia . M...

68 in Kota Tua (+ NOBAR SULTAN AGUNG)

Halo, haloo! Saya kembali lagi, nih! Setelah sekian lama blog ini terbengkalai, akhirnya saya bisa posting sesuatu lagi, hehe. Psst... sebenarnya itu karena saya malas . Nah, sebagai pelunasan hutang kemarin-kemarin, kali ini saya mau cerita trip 68 ke Kota Tua! Yeay! Kalau bisa dibilang sih ini semacam study tour . Jadi tanggal 6 September kemarin, seluruh anak kelas sebelas sekolah saya pergi ke Kota Tua didampingi guru-guru untuk melakukan observasi museum. Pastinya, kalau sudah di sana, ada satu museum yang wajib dikunjungi. Yap, Fatahillah! Selain memang karena terkenal banget, Museum Fatahillah juga mengandung nilai sejarah, loh! Ya jelas, kalau enggak, gimana bisa disebut museum? Dua museum lagi yang kita kunjungi, yaitu Museum Wayang dan Museum Seni Rupa. Karena pada dasarnya saya suka jalan-jalan ke museum begini, jadilah event kali ini jadi favorit saya! Eits, tapi, Tugas tetap tidak luput, yaitu nge- vlog ! Haduh, haduh... Tapi gak perlu khawatir, kare...

GEMPA, COY!

Hari itu matahari cerah, terik—sama sekali gak ada tanda-tanda hujan akan turun, padahal ini musim hujan. Sama sekali beda sama kemarin hari yang mendung seharian. Lihat jam, malah bikin mendengus. Jam pulang masih lama, para siswa sudah bosan belajar hari ini. Apalagi terakhir pelajaran Sejarah Indonesia. Ngantuk-ngantuk, deh. Tambah lagi hari ini jadwalnya kerja kelompok. Pasalnya, cewek satu ini—Rena—malas sekali kalau sudah kerkom . Kerja kelompok yang seharusnya jadi forum diskusi tugas, malah berubah fungsi jadi forum gossip . Atau forum bercanda. Ya, pokoknya, malah jadi ngobrol gitu lah. Baru saja para siswa masuk kelas selesai cuci perlengkapan melukis pas pelajaran Seni Budaya, Ibu Tika—guru Sejarah sudah masuk saja. Yakin deh, kalau wajah para siswa itu diartikan mungkin akan mengatakan; malas banget, ya ampun . Rena pun termasuk salah satunya. Tapi mau bagaimana lagi, kalau bukan demi nilai dan absensi, juga persentase naik kelas—Rena mana mau! Men...